Friday, 25 October 2013

Flora dan Fauna Indonesia

Curah hujan yang cukup tinggi di daerah tropis mengakibatkan suburnya berbagai jenis tanaman. Oleh karena itu, daerah tropis dikenal sebagai kawasan hutan belukar yang bukan saja menyimpan berbagai potensi kekayaan alam, melainkan juga berperan sebagai paru-paru dunia. Indonesia memiliki beraneka ragam jenis tumbuhan. Iklim memiliki pengaruh yang sangat besar, terutama curah hujan dan suhu udara. Pengaruh suhu udara terhadap habitat tumbuhan di Indonesia telah dikenal dengan klasifikasi Junghuhn, seorang ahli botani asal Jerman yang membagi jenis tumbuhan berdasarkan ketinggian tempat. Persebaran fauna di Indonesia berkaitan dengan sejarah geologis Kepulauan Indonesia. Menurut Alfred Russel Wallace, terdapat perbedaan sebaran binatang di Indonesia. Klasifikasi persebaran fauna di Indonesia dikenal dengan sebutan kralsifikasi garis wallace.Keberadaan flora dan fauna di suatu tempat tentunya dipengaruhi oleh faktor-faktor yang ada di tempat tersebut. Faktor-faktor yang dimaksud adalah sebagai berikut.

a. Faktor Klimatik
Iklim terdiri atas suhu udara, tekanan udara, kelembapan udara, angin, dan intensitas sinar matahari. Perbedaan temperatur pada suatu wilayah dipengaruhi oleh letak lintang (latitude) selatan dan utara dan ketinggian suatu tempat. Perbedaan tersebut menyebabkan variasi tumbuhan pula. Teori ini dibuktikan oleh seorang ilmuwan biologi lingkungan, sekitar tahun 1889 yang bernama C. Hert Meeriem. Ia meneliti model penyebaran tumbuhan berdasarkan pada variasi ketinggian Gunung San Fransisco dari kaki gunung hingga ke puncak gunung. Model tersebut ternyata sejalan dengan pola penyebaran tumbuhan dari garis tropik ekuator hingga ke arah utara atau pun selatan. Jadi, distribusi jenis flora dari daerah yang paling panas ke daerah yang paling dingin ternyata menyerupai distribusi flora dari pantai hingga ke puncak gunung. Artinya, urutan bioma (ekosistem dunia) dari ekuator (khatulistiwa) ke kutub sama dengan urutan ekosistem dari pantai sampai ke puncak gunung.

Meeriem berkesimpulan bahwa tipe tumbuhan suatu daerah dipengaruhi oleh temperatur, kemudian dapat dibuktikan bahwa faktor kelembapan ternyata lebih berperan dari pada faktor temperatur. Curah hujan yang tinggi dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman besar. Semakin kita bergerak ke daerah dengan curah hujan yang rendah, tumbuhan akan didominasi oleh tumbuhan kecil (belukar, rumput) dan akhirnya kaktus atau tanaman padang pasir lainnya.

b. Faktor Edafik
Jenis tanah erat kaitannya dengan kesuburan tanah di tempat yang bersangkutan. Jenis tanah di berbagai tempat berbeda-beda, bergantung pada faktor bahan asal tanah, iklim, serta vegetasi. Hal ini menyebabkan tingkat kesuburan di berbagai tempat juga berbeda, sehingga terhadi penyebaran flora dan fauna di seluruh dunia.

c. Faktor Fisiografik
Daratan yang ada di seluruh permukaan bumi mempunyai ketinggian yang berbeda-beda. Daratan bisa berupa daratan rendah, pantai, dataran tinggi, serta pegunungan. Makin tinggi relief daratan suatu tempat, maka suhu udaranya makin dingin. Pada daerah-daerah berelief tinggi yang bersuhu dingin, jenis flora dan fauna yang ada sangat terbatas.

d. Faktor Biologis
Dalam biosfer selalu terjadi hubungan yang saling memengaruhi antara sesama makhluk hidup yang disebut interaksi. Terutama manusia dengan budayanya, merupakan faktor biologis yang paling berpengaruh dalam biosfer. Manusia dengan budayanya mampu memengaruhi lingkungan biosfer di sekitarnya. Misalnya, manusia yang selalu berupaya memperbaiki jenis serta penyebaran flora dan fauna. Namun, tidak semua bentuk interaksi antarfaktor biologis dalam biosfer bersifat memperbaiki (konstruktif), sebab ada pula yang bersifat merusak (destruktif) atau gabungan dari keduanya.

Dari berbagai pengaruh faktor-faktor di atas menjadikan wilayah Indonesia merupakan salah satu wilayah dari tiga negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Dua negara lainnya, yaitu Brazil dan Zaire. Akan tetapi dibandingkan Brazil dan Zaire, Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Keunikannya, yaitu di samping memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi,

Indonesia mempunyai areal tipe Indo-Malaya yang luas, juga tipe Oriental, Australia, dan peralihannya. Selain itu, di Indonesia terdapat banyak hewan dan tumbuhan langka, serta hewan dan tumbuhan endemik (penyebaran terbatas). Indonesia terletak di daerah tropik sehingga memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dibandingkan dengan daerah subtropik (iklim sedang) dan kutub (iklim kutub). Tingginya keanekaragaman hayati di Indonesia ini terlihat dari berbagai macam ekosistem yang ada di Indonesia, seperti ekosistem pantai, ekosistem hutan bakau, ekosistem padang rumput, ekosistem hutan hujan tropis, ekosistem air tawar, ekosistem air laut, dan ekosistem sabana. Masing-masing ekosistem ini memiliki keanekaragaman hayati tersendiri.

Tumbuhan (flora) di Indonesia merupakan bagian dari geografi tumbuhan Indo-Malaya. Flora Indo-Malaya meliputi tumbuhan yang hidup di India, Vietnam, Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Filipina. Flora yang tumbuh di Malaysia, Indonesia, dan Filipina sering disebut sebagai kelompok flora Malesiana. Hutan di daerah flora Malesiana memiliki kurang lebih 248.000 spesies tumbuhan tinggi, didominasi oleh pohon dari familia Dipterocarpaceae, yaitu pohon-pohon yang menghasilkan biji bersayap. Dipterocarpaceae merupakan tumbuhan tertinggi dan membentuk kanopi hutan. Tumbuhan yang termasuk famili Dipterocarpaceae misalnya keruing ( Dipterocarpus sp), meranti (Shorea sp), kayu garu (Gonystylus bancanus), dan kayu kapur (Drybalanops aromatica).

Hutan di Indonesia merupakan bioma hutan hujan tropis atau hutan basah, dicirikan dengan kanopi yang rapat dan banyak tumbuhan liana (tumbuhan yang memanjat), seperti rotan. Tumbuhan khas Indonesia seperti durian (Durio zibetinus), Mangga (Mangifera indica), dan Sukun (Artocarpus sp) di Indonesia tersebar di Sumatra, Kalimantan, Jawa dan Sulawesi. Sebagai negara yang memiliki flora Malesiana, apakah di Malaysia dan Filipina juga memiliki jenis tumbuhan seperti yang dimiliki oleh Indonesia.

Kalimantan, dan Jawa terdapat tumbuhan endemik Rafflesia. Tumbuhan ini tumbuh di akar atau batang tumbuhan pemanjat sejenis I ndonesia bagian timur, tipe hutannya agak berbeda. Mulai dari Sulawesi sampai Irian Jaya (Papua) terdapat hutan non–Dipterocarpaceae. Hutan ini memiliki pohon-pohon sedang, di antaranya beringin (Ficus sp), dan matoa (Pometia pinnata). Pohon matoa merupakan tumbuhan endemik di Irian.

Hewan-hewan di Indonesia memiliki tipe oriental (Kawasan Barat Indonesia) dan Australia (Kawasan Timur Indonesia) serta peralihan. Hewan-hewan di bagian Barat Indonesia (oriental) yang meliputi Sumatra, Jawa, dan Kalimantan, memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
  • Banyak spesies mamalia yang berukuran besar, misalnya gajah, banteng, harimau, badak. Mamalia berkantung jumlahnya sedikit, bahkan hampir tidak ada.
  • Terdapat berbagai macam kera, misalnya bekantan, tarsius, orang utan.
  • Terdapat hewan endemik, seperti badak bercula satu, binturong (Aretictis binturang), monyet (Presbytis thomasi), tarsius (Tarsius bancanus), kukang (Nyeticebus coucang).
  • Burung-burung memiliki warna bulu yang kurang menarik, tetapi dapat berkicau. Burung-burung yang endemik, misalnya jalak bali (Leucopsar nothschili), elang jawa, murai mengkilat (Myophoneus melurunus), elang putih (Mycrohyerax latifrons).

Jenis-jenis hewan di Indonesia bagian timur, yaitu Irian, Maluku, Sulawesi, Nusa Tenggara, relatif sama dengan Australia. Hewan-hewan di bagian Timur Indonesia memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1) Mamalia berukuran kecil
2) Banyak hewan berkantung
3) Tidak terdapat species kera
4) Jenis-jenis burung memiliki warna yang beragam

Irian Jaya (Papua) memiliki hewan mamalia berkantung, misalnya kanguru (Dendrolagus ursinus), kuskus (Spiloeus maculatus). Papua juga memiliki kolek si burung terbanyak, dan yang paling terkenal adalah burung Cenderawasih (Paradiseae sp). Di Nusa Tenggara, ter-utama di pulau Komodo, terdapat reptilian terbesar yaitu komodo (Varanus komodoensis).

Sementara itu, daerah peralihan yang meliputi daerah di sekitar garis Wallace yang terbentang dari Sulawesi sampai kepulauan Maluku, jenis hewannya antara lain tarsius (Tarsius bancanus), maleo (Macrocephalon maleo), anoa, dan babi rusa (Babyrousa babyrussa).

a) Hewan dan Tumbuhan Langka di Indonesia
Di Indonesia banyak terdapat hewan dan tumbuhan langka. Hewan langka misalnya
babirusa (Babyrousa babyrussa), harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae), harimau jawa (Panthera tigris sondaicus), macan kumbang (Panthera pardus), orangutan (Pongo pygmaeus abelii di Sumatra dan Pongo pygmaeus pygmaeus di Kalimantan), badak sumatra (Decerorhinus sumatrensis), tapir (Tapirus indicus), gajah asia (Ele phas maximus), bekantan (Na salis larvatus), komodo (Vara nus komodoensis), banteng (Bossondaicus), cen drawasih (Paradisaea minor), kanguru pohon (Dendrolagus ursinus), maleo (Macrocephalon maleo), kakatua raja (Probosciger aterrimus), rangkong (Buceros rhinoceros), kasuari (Casuarius casuarius), buaya muara (Crocodylus porosus), buaya irian (Crocodylus novaeguinae), penyu tempayan (Caretta caretta), penyu hijau (Chelonia mydas), ular sanca bodo (Phyton molurus), sanca hijau (Chondrophyton viridis), bunglon sisir (Gonyochepalus dilophus).

Tumbuh-tumbuhan langka misalnya bedali (Radermachera gigantea), putat (Planchonia valida), kepuh (Sterula foetida), bungur (Lagerstroemia speciosa), nangka celeng (Artocarpus heterophyllus), kluwak (Pangium edule), bendo (Artocarpus elasticus), mundu (Garcinia dulcis), sawo kecik (Manilkara kauki), winong (Tetrameles nudiflora), bayur (Pterospermum javanicum), gandaria (Bouea macrophylla), matoa (Pometia pinnata), sukun berbiji (Artocarpus communis).

b) Hewan dan Tumbuhan Endemik di Indonesia
Di Indonesia banyak terdapat hewan dan tumbuhan endemik, yaitu hewan dan tumbuhan itu hanya ada di Indonesia, tidak terdapat di negara lain. Hewan endemik misalnya harimau jawa (Panthera tigris sondaicus), harimau bali (sudah punah), jalak bali putih (Leucopsar rothschildi) di Bali, badak bercula satu (Rhinoceros sondaicus) di Ujung Kulon, binturong (Artictis binturong), monyet (Presbytis thomasi), tarsius (Tarsius bancanus) di Sulawesi Utara, kukang (Nycticebus coucang), maleo (hanya di Sulawesi), komodo (Varanus

komodoensis) di Pulau Komodo dan sekitarnya. Tumbuhan yang endemik terutama dari genus Rafflesia misalnya Rafflesia arnoldi (endemik di Sumatra Barat, Bengkulu, dan Aceh), R. borneensis (Kalimantan), R. cilliata (Kalimantan Timur), R. horsfilldii (Jawa), R.patma (Nusa Kambangan dan Pangandaran), R. rochussenii (Jawa Barat), dan R. contleyi (Sumatra bagian timur).

Pola Pemukiman dan Penggunaan Lahan

Pola pemukiman penduduk di suatu daerah sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik daerahnya. Kondisi fisik yang dimaksud antara lain meliputi iklim, kesuburan tanah, dan topografi wilayah. Pengaruh kondisi fisik ini sangat terlihat pada pola pemukiman di daerah pedesaan, sedangkan di daerah perkotaan kurang begitu jelas, mengingat penduduk kota sangat padat, kecuali yang bertempat tinggal sepanjang aliran sungai, biasanya membentuk pola linear mengikuti aliran sungai. Menurut Alvin L. Bertrand, berdasarkan pemusatan masyarakatnya, pola pemukiman penduduk desa dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu
  • Nucleated village, yaitu penduduk desa hidup bergerombol membentuk suatu kelompok yang disebut dengan nucleus.
  • Line village, yaitu pemukiman penduduk yang menyusuntempat tinggalnya mengikuti jalur sungai atau jalur jalandan membentuk deretan perumahan.
  • Open country village, yaitu di mana penduduk desa memilih ataumembangun tempat-tempat kediamannya tersebar di suatu daerah pertanian, sehingga dimungkinkan adanya hubungan dagang, karena adanya perbedaan produksi dan kebutuhan. Pola ini disebut juga trade centre community.

Sedangkan menurut Bintarto, terdapat enam pola pemukiman penduduk desa, yaitu
  • Memanjang jalan. Di daerah plain (datar) susunan desanya mengikuti jalur-jalur jalan
    dan sungai. Contoh desa ini dapat dilihat di daerah Bantul-Yogyakarta, dan merupakan Line Village atau pola desa yang memanjang.
  • Memanjang sungai.
  • Radial. Pola desa ini berbentuk radial terhadap gunung dan memanjang sepanjang sungai di lereng gunung.
  • Tersebar, pola desa di daerah karst gunung adalah tersebar atau scattered, merupakan nukleus yang berdiri sendiri.
  • Memanjang pantai. Di daerah pantai susunan desa nelayan berbentuk memanjang sepanjang pantai. Contoh ini terdapat di daerah Rengasdengklok Jawa Barat dan di daerah Tegal.
  • Memanjang pantai dan sejajar dengan kereta api. Jika kita perhatikan, ternyata ada keterkaitan antara pola pemukiman penduduk dengan pola pemukiman dengan iklim, pola pemukiman dengan kesuburan tanah, dan pola pemukiman dengan topografi wilayah

1. Kaitan Pola Pemukiman dan Iklim
Pada umumnya penduduk terpusat di daerah-daerah dengan kondisi iklim yang mendukung kehidupannya. Banyaknya penduduk di suatu daerah dengan curah hujan yang cukup banyak menyebabkan sumber air banyak ditemukan di mana-mana. Hal ini dapat menyebabkan pola pemukiman penduduknya juga tersebar. Kurangnya curah hujan menyebabkan sumber air sedikit. Dengan demikian, penduduk akan mencari tempat tinggal yang memiliki sumber air untuk menunjang kehidupannya. Hal ini dapat menyebabkan pemukiman penduduk membentuk pola terpusat yang melingkari sumber air tersebut.

2. Pola Pemukiman dan Kesuburan Tanah
Daerah yang memiliki tanah-tanah yang subur dapat mengikat tempat tinggal penduduk dalam satu kelompok (memusat). Sebaliknya, di daerah-daerah dengan tingkat kesuburan tanahnya sangat rendah (misalnya di daerah kapur), penduduk akan mencari tempattempat yang agak subur untuk tempat tinggalnya. Dengan demikian, pola pemukiman penduduknya akan membentuk pola tersebar (scattered).

3. Pola Pemukiman dan Topografi Wilayah
Topografi merupakan faktor dominan yang menyebabkan terjadinya perbedaan pola pemukiman penduduk di daerahdaerah. Pola pemukiman penduduk di daerah pantai akan membentuk pola "line" atau memanjang mengikuti garis pantai. Pola line juga akan terbentuk di sepanjang jalan, jalan kereta, atau sepanjang aliran sungai. Begitu juga di daerah dengan topografi relatif datar biasanya membentuk pola mengelompok.

Pada daerah dengan topografi kasar atau bergelombang menyebabkan pola pemukiman penduduknya tersebar, karena mereka mencari tempat yang agak datar untuk membangun tempat tinggalnya. Di daerah ini tidak jarang jarak antara satu desa dengan desa lainnya sangat berjauhan, dan hanya dihubungkan oleh jalan setapak.

Pola Penggunaan Lahan
Ketinggian tempat mempunyai pengaruh terhadap perubahan suhu. Beberapa jenis tanaman mempunyai kondisi suhu tertentu untuk dapat hidup dan berkembang secara optimal. Junghuhn, seorang ahli berkebangsaan Jerman pernah melakukan penelitian di Indonesia dan menemukan adanya perbedaan suhu dan jenis tanaman setiap perbedaan ketinggian tempatnya. Oleh karena itu, Junghuhn membagi iklim di daerah tropis berdasarkan ketinggian tempatnya menjadi empat daerah, yaitu
  • Daerah iklim panas (22°C), berada pada ketinggian antara 0 - 700 m. Tanaman yang
    dapat tumbuh baik pada kondisi ini adalah kelapa, padi, jagung, tebu, tembakau, dan karet.
  • Daerah iklim sedang (22°C - 17,1°C), berada pada ketinggian 700 - 1500 m, baik digunakan untuk tanaman padi, tembakau, tebu, sayuran, dan kopi.
  • Daerah iklim sejuk (17,1°C - 11,1°C), terletak pada ketinggian 1500 m, cocok untuk tanaman kopi, kina, teh, dan sayuran
  • Daerah iklim dingin (11,1°C - 6,2°C), terletak pada ketinggian lebih dari 2500 m. Ditumbuhi lumut, tidak ada tanaman budidaya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin rendah suhunya, semakin berkurang pula jenis tanamannya.

1. Penggunaan Lahan dan Letak Wilayah
Letak geologis menyebabkan Indonesia memiliki tanah subur. Letak astronomis menyebabkan Indonesia memiliki iklim tropis dengan penyinaran matahari sepanjang tahun. Demikian juga, letak geografis menyebabkan negara Indonesia dipengaruhi oleh angin muson yang membawa pengaruh terhadap perubahan musimnya. Tanah subur dengan iklim yang mendukung serta perubahan musim yang jelas merupakan kondisi yang sangat potensial untuk pengembangan kegiatan pertanian.

2. Penggunaan Lahan dan Topografi Wilayah
Daerah yang memiliki bentuk muka bumi berupa dataran, dapat memberikan beberapa manfaat tersendiri bagi daerah yang bersangkutan, seperti adanya kemudahan dalam hal pengembangan wilayah dan pengembangan sarana dan prasarana transportasi, khususnya transportasi darat. Selain itu, lahan di dataran rendah biasanya banyak digunakan untuk sawah, pemukiman, kegiatan industri, kantor, serta fasilitas sosial lainnya.

Selain itu, keindahan alam di daerah pantai mendorong penduduknya untuk memanfaatkan wilayah pantai untuk usaha perikanan air laut (nelayan), perikanan tambak, usaha tambak garam, perkebunan kelapa, usaha pemanfaatan hutan bakau, serta bagi wilayah-wilayah pantai yang memiliki panorama indah banyak dikembangkan menjadi objekwisata.

Sebaliknya, daerah yang memiliki bentuk muka bumi yang terjal, berbukit-bukit dan bergunung-gunung, banyak memiliki kendala dalam pengembangan wilayahnya, khususnya dalam pengembangan sarana dan prasarana transportasinya. Namun karena daerah tersebut biasanya memiliki suhu udara yang sejuk dan segar, maka banyak yang dikembangkan menjadi daerah wisata, areal perkebunan atau agrowisata.

Kedatangan Pedagang Eropa

Kedatangan para pedagang Eropa ke Indonesia awal abad ke-16 mempunyai tujuan utamanya adalah mendapatkan rempah-rempah. Wilayah Nusantara sejak lama sudah terkenal sebagai daerah penghasil rempah-rempah. Bangsa-bangsa Eropa yang membutuhkan rempah-rempah pada awalnya mendapatkan barang itu tidak langsung dari Nusantara, melainkan dari kota Konstantinopel. Dengan dikuasainya Konstantinopel oleh Dinasti Turki Usmaniah pada tahun 1453. Konstantinopel tertutup bagi pedagang-pedagang Eropa.

a. Kedatangan Bangsa Portugis
Bangsa Portugis memelopori penjelajahan samudra dirintis oleh Prince Henry (1394-1460). Ia pernah menyusuri pantai Barat Afrika dan menjadikan jalur itu sebagai jalur perdagangan

Portugis. Kemudian penjelajahan dilanjutkan oleh Bartholomeus Diaz pada tahun 1487. Dengan memakai jalur yang dirintis oleh Prince Henry, Bartolomeus Diaz mencapai ujung selatan Afrika Selatan atau dikenal dengan Tanjung Harapan (Cape of Hope). Penjelajahan Bartholomeus Diaz kemudian dilanjutkan oleh Vasco da Gama (1497-1498) yang mencapai Calicut, India. Cengkeraman Portugis di India semakin kuat sejak kota Goa dijadikan koloni pertama Portugis di India. Selanjutnya Diego Lopez Sequira meneruskan penjelajahan hingga sampai ke Malaka pada tahun 1509.

Para pedagang muslim Nusantara secara rutin mengadakan hubungan dagang dengan pedagang India, Arab, dan Cina. Di Calicut, Goa, dan Gujarat, mereka bertemu dan berdagang dengan bangsa Portugis. Selain itu, para pedagang muslim Nusantara berteman dengan bangsa Portugis di Malaka. Keberadaan bangsa Portugis di Malaka berkaitan erat dengan penaklukan Malaka yang dilakukan Alfonso d’ Albuquerque pada tahun 1511.

Portugis yang mengetahui bahwa rempah-rempah banyak dihasilkan di Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan, berusaha mengadakan kerja sama dengan kerajaan tersebut. Pada tahun 1512 Portugis berhasil mengadakan kerja sama perdagangan dengan Kerajaan Hitu (Ambon) . Sedangkan Ternate bersahabat dengan Portugis untuk menghadapi persaingan dengan Tidore yang bersekutu dengan Spanyol. Kerja sama Portugis-Ternate diperkuat oleh perjanjian yang dibuat antara Gubernur Jenderal Portugis Lopez de Mesquita dan Sultan Hairun tahun 1570.

Tujuan utama kedatangan bangsa Portugis ke Indonesia adalah mendapatkan rempah-rempah. Di sisi lain, bangsa Portugis juga menyebarkan agama Katolik. Seorang misionarisnya bernama Fransiscus Xaverius memperkenalkan agama Katolik kepada rakyat Maluku. Di bidang budaya, bangsa Portugis memperkenalkan nilai budayanya.

b. Kedatangan Bangsa Spanyol
Penjelajahan samudra bangsa Spanyol dirintis oleh Christopher Columbus. Ketika berlayar menyeberangi Samudra Atlantik, Columbus sampai di kepulauan Bahama pada tahun 1492. Tempat itu kemudian diberi nama San Salvador. Pada pelayaran antara tahun 1492-1502, Columbus mendarat di Kepulauan Karibia, Kuba, Haiti, Puerto Rico, Jamaica, dan Honduras. Sebagai penghargaan kepada jasanya merintis jalan ke Benua Amerika, ia dianggap sebagai “penemu” Benua Amerika.

Keinginan Spanyol untuk mendapatkan rempah-rempah dari Dunia Timur terus dilakukan.
Raja Spanyol, Charles V menugaskan kepada pelaut Ferdinand Magelhaens untuk berlayar mengikuti jejak yang telah dirintis oleh Columbus yaitu melalui ujung Benua Amerika bagian Selatan.

Ekspedisi Magelhaens berhasil menyeberangi Samudra Pasifik ke arah barat sampai di Filipina pada tahun 1521. Ia mempersembahkan Filipina untuk Raja Spanyol. Namun, Magelhaens terbunuh di Filipina sehingga perjalanan dilanjutkan oleh anak buahnya Juan Sebastian del Cano. Rombongan tiba kembali di Spanyol pada tahun 1522. Bangsa Spanyol pertama kali masuk ke Indonesia di Maluku tahun 1522, setelah berhasil mendarat di Filipina, Juan Sebastian del Cano melanjutkan pelayaran kembali ke Spanyol melalui perairan Kepulauan Maluku, terus masuk ke Samudra Hindia. Di Maluku, Spanyol diterima dengan baik oleh Kerajaan Tidore. Saat itu Tidore sedang berperang dengan Ternate yang telah bersekutu dengan Portugis, pertemuan dua bangsa Eropa di Maluku Selatan itu menimbulkan perselisihan, karena kedua bangsa saling menuduh telah melanggar Perjanjian Tordesillas (1492).

c. Kedatangan Bangsa Belanda di Indonesia
Ekspedisi laut pertama Belanda dimulai tahun 1595 dipimpin oleh Cornelis de Houtman. Dengan empat buah kapal yaitu Duijfken, Amsterdam, Mauritius, Holandia serta berawak 249. T ahun 1596, ekspedisi Belanda sampai di pelabuhan Banten. Kedatangan pelaut Belanda tentu saja tidak disukai oleh pedagang Portugis yang lebih dahulu tiba. Pada saat yang bersamaan, pedagang Inggris juga mulai datang ke Banten. Persaingan tiga bangsa Eropa ini tentu saja sangat tidak disukai penduduk pelabuhan Banten. Cornelis de Houtman kemudian melanjutkan perjalanan ke Madura. Di pulau garam itu, konflik penduduk lokal dengan Belanda terjadi. Penduduk Madura mengusir Belanda, dan membunuh beberapa awak kapalnya. Akhirnya de Houtman kembali ke negerinya dengan sisa-sisa awak kapalnya pada tahun 1597 tanpa hasil yang memuaskan.

Tahun 1599 armada dagang Belanda yang dipimpin oleh van Neck tiba di Maluku, pulau penghasil rempah-rempah. Penduduk setempat menerima Belanda dan mengadakan transaksi perdagangan rempah-rempah. Van Neck kembali ke negerinya dengan membawa hasil rempah-rempah dalam jumlah yang banyak. Keberhasilan pelayaran van Neck mendapatkan rempah-rempah telah membuat pedagang Belanda semakin sering ke Indonesia. Ini menimbulkan persaingan di antara mereka sendiri. Kerajaan Belanda akhirnya membentuk perkumpulan pedagang Belanda yang beroperasi di Indonesia dengan tujuan untuk menyatukan pedagang Belanda di kawasan Nusantara dan menghindari persaingan di antara pedagang Belanda sendiri. Perkumpulan dagang itu dinamakan VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) yang berdiri tahun 1602. Pemerintah Kerajaan Belanda kemudian memberikan hak-hak istimewa kepada VOC yang disebut Hak Oktroi. Pejabat Belanda yang ditunjuk sebagai gubernur jenderal VOC pertama ialah Jan Pieterzoon Coen.

d. Kedatangan Bangsa Inggris di Indonesia
Ratu Inggris, Elizabeth I memberikan kewenangan kepada EIC (East India Company), kongsi dagang Inggris di Asia, sejak tahun 1600. Inggris berlayar ke Indonesia di pimpin Sir Henry Middleton. Pelayaran mereka sampai di Ternate, Tidore, Ambon, dan Banda tahun 1604. Sebelumnya tahun 1580 ekspedisi Inggris di bawah pimpinan F. Drake lebih dahulu sampai di Ternate, kemudian tahun 1586, pelayaran Thomas Cavendish sampai di Maluku. Di daerah itu mereka mendapati bahwa Portugis dan Belanda lebih dahulu menguasai wilayah itu. VOC merasa kedatangan EIC sebagai saingan, karena itulah VOC mengadakan perlawanan terhadap EIC.

Di Ambon, VOC mengizinkan EIC mendirikan benteng. Pendirian benteng ditentang oleh penduduk Ambon. Pada tahun 1622 terjadi pembunuhan terhadap sejumlah orang Inggris yang mengakui berkomplot untuk melawan VOC. Peristiwa itu disebut Peristiwa Amboina. Sejak itu, Inggris menarik kehadirannya dari Kepulauan Maluku Pada tanggal 8 Agustus 1811 armada laut Inggris menyerang kedudukan Belanda di Batavia. Armada Inggris diperkuat oleh 60 kapal. Pada tanggal 26 Agustus 1811 Batavia dan sekitarnya jatuh ke tangan Inggris.

Serangan armada Inggris ke Pulau Jawa ternyata mendapatkan dukungan dari raja-raja di Jawa, seperti Raja Mangkunegara dari Surakarta, yang merasa kecewa dengan pemerintahan Daendels. Melalui Perjanjian Tuntang 18 September 1811 Belanda harus menyerahkan wilayah Indonesia kepada Inggris. Dengan demikian, sejak tahun 1811 Indonesia menjadi jajahan Inggris. Di bawah kendali EIC yang dipimpin Lord Minto di Kalkuta (India) Thomas Stamford Raffles (1811-1816) dipercayai sebagai gubernur jendral di Indonesia.

Perkembangan Kehidupan Masyarakat, Kebudayaan,dan Pemerintahan

a. Perubahan Struktur Sosial
Dalam pemerintahan kolonial selain terjadi pembedaan kedudukan antara penjajah dan yang dijajah, terjadi juga pembedaan kedudukan sosial antara penduduk pribumi dan golongan Indo ( keturunan campuran) serta imigran, khususnya imigran dari daerah Asia Timur seperti Cina, India dan Pakistan. Menurut peraturan tersebut penggolongan penduduk di Indonesia terdiri dari.

1) Golongan Eropa dan yang dipersamakan, yaitu.
  • Bangsa Belanda dan keturunannya
  • Bangsa-bangsa Eropa lainnya, misalnya Portugis, Prancis, Inggris dan lainnya
  • Orang-orang bangsa lain (yang bukan bangsa Eropa dan telah masuk golongan Eropa, telah sah dipersamakan dengan mereka yang termasuk golongan Eropa. Golongan ini berada pada kedudukan sosial atas atau lapisan pertama

2) Golongan Timur Asing, adalah orang Cina dan bukan Cina. Golongan yang bukan Cina terdiri atas Arab, India, Pakistan, dan orang-orang datang dari negara Asia lainnya. Golongan ini berada pada kedudukan sosial menengah atau lapisan kedua.

3) Golongan Bumiputera (pribumi atau bangsa Indonesia asli (inlanders), penduduk dan bangsa Indonesia berada pada kedudukan sosial bawah atau lapisan ketiga.

b. Mobilitas Sosial dan Perluasan Pendidikan
Perkembangan perekonomian dunia di bidang industri, mendorong kolonial Belanda menjadikan Indonesia sebagai sapi perahan untuk kebutuhan industri di Eropa. Gagasan membuka wilayah Indonesia untuk penanaman modal asing sejak tahun 1870 memberikan kesempatan besar bagi perusahaan perusahaan swasta asing membuka perusahaan-perusahaan di perkebunan, perindustrian, pertambangan, perhubungan, dan perdagangan. Maka era pasca 1870 bisa disebut sistem ekonomi liberal di Indonesia.

Kebutuhan tenaga kerja yang meningkat sejalan dengan pembukaan perkebunan dan industri di wilayah Indonesia mendorong pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1848, untuk membuka sekolah-sekolah yang khusus untuk mendidik calon-calon pegawai rendahan yang akan dipekerjakan pada perkebunan-perkebunan milik pemerintah kolonial. Sebenarnya sejak abad ke-17 M, di daerah-daerah tertentu telah dibangun sekolah-sekolah oleh pihak VOC. Seperti di Kepulauan Maluku, Nusa Tenggara, Batavia (Jakarta), dan Semarang (Jawa Tengah).

Sistem pendidikan dalam abad ke-17 dan 18 yang hanya sedikit sekali jumlahnya itu sangat berkaitan dengan penyebaran agama Kristen. Sekolah-sekolah ini dibangun oleh Misi dan Zending. Kemudian pada abad ke-19 mulailah dibangun sekolah-sekolah yang hanya diciptakan untuk masyarakat Eropa di Hindia Belanda terutama di kota-kota besar. Sekolah-sekolah juga dibangun untuk anak-anak priyayi. Pada tahun 1851, didirikan Sekolah Dokter Jawa yang sebenarnya merupakan sekolah untuk mendidik mantri cacar atau kolera sebab kedua penyakit ini sering menjadi wabah di beberapa tempat di Hindia Belanda. Lamanya belajar sekolah itu dua tahun, tetapi sejak tahun 1875 menjadi 6 tahun Sekolah ini kemudian berkembang menjadi STOVIA (School Tot Opleiding Voor Inlandsche Artsen) pada tahun 1902. Dengan ditingkatkan sistem pendidikannya, maka lulusan STOVIA dianggap sebagai dokter dengan gelar disebut Inlandsche Art.

Pada tahun 1914, STOVIA ditingkatkan lagi karena caloncalonnya harus diambil dari lulusan MULO. Tahun 1927, pemerintah Kolonial Belanda mendirikan Sekolah Tinggi Kedokteran (Geneeskudige Hoogeschool) yang mengambil lulusan dari AMS dan HBS. Lulusannya memakai gelar Art, dan disamakan dengan lulusan universitas di negeri Belanda. Pada tahun 1892 mulai diadakan pembagian dalam sistem pendidikan yang berbeda-beda dari suatu pulau ke pulau. Pada waktu itu semua sekolah dasar dikelompokkan menjadi dua macam saja, yaitu sebagai berikut.
  • Sekolah Kelas Satu (Eerste School), sekolah ini hanya menampung murid-murid dari golongan priyayi dan hanya didirikan di ibukota keresidenan. Lama pendidikannya lima tahun. Kurikulumnya meliputi: membaca, menulis, dan ilmu ukur tanah. Guru-gurunya diambil dari lulusan sekolah guru (kweekschool). Bahasa pengantar bahasa daerah, tahun 1907 diubah menjadi bahasa Belanda dan lama pendidikan ditambah menjadi 6 tahun.
  • Sekolah Kelas Dua (Tweede School), sekolah ini ditujukan untuk menampung penduduk pribumi pada umumnya di daerah pedesaan. Lama pendidikan 3 tahun. Kurikulumnya, membaca, menulis, dan menghitung. Bahasa pengantarnya hanya bahasa daerah setempat atau bahasa Melayu.

Di samping didirikan sekolah-sekolah milik pemerintah atau swasta, dari golongan Islam pada awal abad 20 sudah muncul kesadaran untuk mendirikan sekolah-sekolah untuk penduduk pribumi. Secara tradisional golongan Islam mempunyai sistem pendidikan yang dikenal dengan nama “Pesantren”. Pesantren adalah pusat belajar tradisional bagi umat Islam, umumnya berlokasi di pedesaan. Selain pesantren, Muhammadiyah juga mendirikan sekolah-sekolah. Muhammadiyah yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tanggal 18 November 1912 di Yogyakarta. Menurut pendirinya, lapangan pendidikan harus prioritas tertinggi bila memang ingin melakukan pembangunan kembali ummat Islam. Muhammadiyah banyak membangun sekolah-sekolah dan madrasah. Berbeda dengan sistem pendidikan yang dianut oleh pesantren, sekolah-sekolah atau madrasahmadrasah, pendidikan yang diberikan Muhammadiyah bercorak kurikulum seperti sekolah-sekolah milik pemerintah kolonial.

Dari pengaruh-pengaruh pendidikan Barat dan Islam, muncul golongan terpelajar yang secara sadar akan nasib bangsanya yang terjajah. Melalui sistem pendidikan Barat dan Islam yang menciptakan suatu golongan baru dalam masyarakat Indonesia yang mengembangkan kesadaran kemerdekaan dan persatuan nasional. Sebagian dari mereka yang memiliki idealisme yang tinggi untuk membina suatu bangsa dan memperjuangkan kemakmuran bangsa.

Awal perkembangan sistem pendidikan di atas tidak dapat dilepaskan dari suatu politik kolonial yang dimulai sejak awal abad ke-20, sering juga dinamakan sebagai Politik Etika. Politik Etika yang dicanangkan pada tahun 1901 mencoba mengubah sistem politik liberal menjadi sistem politik dimana pemerintah kolonial Hindia Belanda lebih banyak mencampuri urusanurusan kemasyarakatan. Politik Etika digagas oleh Mr. C. Th. Van Deventer dalam dalam tulisan artikelnya yang berjudul “ Een Ereschuld’ dimuat dalam majalah “De Gids.. “ Van Deventer mencetuskan suatu perasaan tanggung jawab yang timbul di kalangan cendikiawan Belanda yang merasa risau dengan pertumbuhan kapitalisme modern yang cenderung untuk mengabaikan semua nilai-nilai kemanusiaan di tanah jajahan Hindia Belanda.

c. Perkembangan Kebudayaan
Sifat penjajahan yang memaksakan kehendaknya kepada penduduk pribumi berdampak sangat nyata hingga sekarang. Bangsa Belanda sebagai penjajah yang berhasil menancapkan politik kolonialisme dan imperialisme di Indonesia, dan yang berhasil menyatukan Indonesia dalam Pax Nederlandica meninggalkan pengaruhnya dalam corak tata kehidupan masyarakat Indonesia. Banyak unsur-unsur budaya masyarakat Indonesia merupakan pengaruh bangsa Belanda.

Penjajah asing menempatkan Pulau Jawa sebagai, pusat jajahan dengan alasan Pulau Jawa tanahnya subur, penduduknya padat, kekayaan alamnya melimpahnya, terdapat kerajaan-kerajaan besar yang punya pengaruh dan hubungan kuat dengan rakyat. Dengan demikian setiap bangsa yang menjajah Indonesia, baik itu Portugis, Belanda, Inggris atau pun Jepang selalu menjadikan Pulau Jawa sebagai pusat jajahan. Pulau Jawa menjadi lebih maju perkembangan ekonomi, budaya, pergerakan penduduknya. Apalagai sejak Belanda mengeluarkan kebiksanaan ekonomi politik pintu terbuka tahun 1870. Pemodal asing berdatangan ke Indonesia, menanamkan modal dibidang perkebunan, pertambangan, dan industri.

Pembukaan perkebunan dan industri lebih banyak bertebaran di Pulau Jawa. Peninggalan budaya barat kita bisa lihat dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia, seperti dalam bidang agama. Di Indonesia, agama Nasrani yang dibawa bangsa barat yaitu Kristen Katolik dan Kristen Protestan. Agama Kristen Katolik disebarkan oleh bangsa Portugis, sedangkan Kristen Protestan disebarkan oleh bangsa Belanda. Wilayah penganut agama Nasrani terutama di bagian Indonesia Timur, seperti Pulau Papua, Sumatera Utara (terutama daerah sekitar Danau Toba, dan P. Nias) Nusa Tenggara Timur, Timor Timur, Maluku, Sulawesi Utara dan sebagian kecil di Pulau Jawa. Dalam bidang pendidikan, sistem pendidikan di Indonesia mengambil alih sistem pendidikan barat, yaitu adanya tingkatan pendidikan (pendidikan dasar, menengah, atas), sistem kelas, adanya kurikulum, dan lain-lain. Pendidikan barat dalam perjalanan sejarah nantinya melahirkan golongan terpelajar yang menjadi lokomotif pergerakan nasionalisme Indonesia. Pada bidang hukum, sistem hukum Indonesia mengacu pada sistem hukum warisan Belanda, yang hingga kini tetap di pakai, dengan berbagai istilahnya. Banyak lagi pengaruh-pengaruh budaya barat yang masuk ke dalam budaya masyarakat Indonesia, dan menjadi perbendaharaan kekayaan budaya Indonesia.

d. Perkembangan Pemerintahan
Sejak dibubarkannya VOC akhir 1799, maka pemerintahan di Hindia Belanda dipegang langsung oleh pemerintah Belanda. Pemerintah Belanda yang mengurus masalah Hindia Belanda adalah Kementerian Jajahan. Pejabat tinggi yang memegang pemerintahan atas wilayah Hindia Belanda adalah Gubernur Jenderal. Dalam menjalankan pemerintahannya, Gubernur jenderal sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan di Indonesia. Di bawah kekuasaan Gubernur jenderal terdapat keresidenan, kabupaten, kewedanaan, dan kecamatan. Ketika Daendels (1808 –1811) berkuasa menjadi gubernur jenderal, dengan semangat Revolusi Prancis, dia menerapkan pemerintahan modern di Indonesia, membatasi kekuasaan penguasa pribumi, mengatur kembali pengangkatan penguasa daerah dan pemberian jabatan. Gubernur jenderal Raflles (1811 –1816), adalah orang kedua yang meletakkan dasar pemerintahan modern dengan menerapkan sistem perpajakan. Para bupati dijadikan pegawai negeri dan diberikan gaji padahal menurut adat, kedudukan bupati turun-temurun dan mendapat upeti dari rakyat.

Pada 1903 dikeluarkan Undang-undang Desentralisasi, berisi tentang pembentukan dewan-dewan lokal, baik dewan keresidenan maupun dewan lokal. Tahun 105 di didirikan dewan kota di Batavia, Jatinegara, setahun kemudian di beberapa kota di Jawa dan luar Jawa. Salah satu bentuk dari otonomi kepada Hindia Belanda adalah pendirian Dewan Rakyat (Volksraad) tahun 1916 dan diresmikan tahun 1919. Beranggotakan 39 orang, 19 di antaranya diangkat oleh Gubernur jenderal. Berdasarkan Undang-undang Perubahan tahun 1922, wilayah Hindia Belanda dibagi atas beberapa provinsi. Pembentukan Provinsi Jawa Barat dan Maluku tahun 1926, Jawa Timur (1929), Jawa Tengah (1930). Pada bidang hukum dan peradilan, tahun 1819 dibentuk Mahkamah Agung, tahun 1854 dibentuk Pengadilan Gubernemen dan Pengadilan Pribumi (adat). Pengadilan Gubernemen terdiri atas Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi.

Thursday, 24 October 2013

Peninggalan Sejarah Bercorak Islam di Indonesia

Proses berkembangnya Agama Islam di Indonesiameninggalkan telah mempengaruhi corak dan kebudayaanIndonesia asli. Percampuran unsur-unsur budaya antara budayaIslam dan budaya asli Indonesia melahirkan akulturasi kebudayaan.Perwujudan akukturasi kebudayaan itu dalam bentuk senibangunan dan arsitektur, seperti mesjid, keraton, nisan makam,seni tulis indah atau kaligrafi, dan seni sastra.

a. Mesjid
Dalam seni bangunan wujud akulturasi budaya Islam danbudaya tradisional Indoneesia
yang paling menonjol ada padabangunan mesjid. Bagi pemeluk Agama Islam, mesjidmerupakan tempat suci bagi umat Islam untuk melakukanperibadatan. Mesjid yang ada di Indonesia memiliki ciri-ciriarsitektur yang berbeda dengan mesjid-mesjid di negara lain.

Mesjid-mesjid kuno yang ada di Indonesia mempunyai ciri khasperpaduan budaya Islam dan tradisional.Ciri khasnya adalah pada atapnya yangbertingkat lebih dari satu (atap tumpang),biasanya sampai tiga tingkat. Atap tumpangini menurut ahli sejarah merupakanperpaduan unsur budaya tradisional, budayaHindu dan budaya Islam. Bangunannyaberbentuk bujur sangkar, ada serambi dibagian samping dan belakang. Memilikifondasi yang kokoh, terdapat mihrab atautempat khotbah imam/tempat berdakwahdalam masjid. Terdapat kolam air untukmenyucikan tubuh (wudhu) sebelummelakukan ibadah.

b. Keraton
Bangunan pusat kerajaan atau kesultanan, tempat rajamenetap. Pada masa Islam di Indonesia, keraton berperanpenting baik sebagai pusat kekuasaan politik, juga berfungsisebagai pusat penyebaran Agama Islam. Keraton atau istanayang dibangun pada masa Islam berorak khas perpaduan unsurunsurarsitektur tradisional, budaya Hindu-Buddha dan budayaIslam.

Pada atapnya yang tumpang dan pintu masuk keraton yangberbentuk gapura. Letak keraton biasanya dihubungkan dengankepercayaan masyarakat, selalu menghadap ke arah utara, disebelah barat ada mesjid, dan sebelah timur ada pasar, sebelahselatan alun-alun. Tata ruang seperti merupakan tradisimasyarakat pra sejarah Indonesia yang disebut macapat. Dilapangan luas keraton terdapat pohon beringin besar.

c. Makam
Makam adalah tempat peristirahatan yang terakhir danabadi sehingga pembuatannya
selalu diusahakan untuk menjadiperumahan yang sesuai dengan orang yang dikuburnya. Makampara sultan atau raja dan tokoh Agama dibangun sepertilayaknya sebuah istana. Pada umumnya makam di kerajaandibangun di lereng sebuah bukit, seperti komplek pemakam rajarajaketurunan Mataram di Imogiri Yogyakarta

Dalam kepercayaan masyarakat pra sejarah Indonesia.Komplek pemakaman ditempatkan di atas bukit atau lereng.Pada komplek makam raja di Imogiri Yogyakarta berada di atas sebuah bukit. Makam tertua di Indonesia adalahmakam Fatimah binti Maimun yanglebih dikenal dengan putri Suwari diLeran Gresik bertahun 1082. Makam inimirip candi. Makam lainnya, sepertiMakam Syeikh Maulana Malik Ibrahim

d. Kaligrafi
Kaligrafi adalah seni tulisan indah dengan mengunakanbahasa Arab. Kaligrafi mulai berkembang pada abad ke-16, senitulis indah dalam bahasa Arab dipahatkan pada sebuah batuatau kayu. Kalimat yang diambil biasanya dari ayat-ayat suciAl-Qur'an dan Hadits. Motif kaligrafi biasanya berbentuktumbuh-tumbuhan, bunga-bungaan, pemandangan alam atauhanya garis-garis geometris saja. Seni kaligrafi Islam ini turutmewarnai perkembangan seni rupa di Indonesia. Biasa senikaligrafi dipakai untuk hiasan pada bangunan masjid, motifbatik, hiasan keramik, hiasan pada keris, hiasan pada batu nisan,dan pada dinding rumah.

e. Tradisi dan Upacara
Kebudayaan Islam yang masuk keNusantara mengalami proses akulturasidengan tradisi
dan upacara masyarakatsetempat. Misalnya, tradisi terhadapseseorang yang sudah meninggaldiadakan selamatan hari ke -1 sampai ke-7, ke-40, ke-100 dan ke-1000. Demikianjuga tradisi nyekar (ziarah ke makamdengan menaburkan bunga dan air kemakam).

Upacara-upacara keagamaan yangsampai saat ini senantiasa diselenggarakanseperti peringatan hari-haribesar Islam, misalnya Maulud Nabi, IdulFitri, Idul Adha, dan 1 Muharram.Upacara adat tradisional GrebekMaulud di daerah-daerah tertentudisertai dengan pencucian keris dandiramaikan dengan seni pertunjukanlainnya.Upacara yang berkaitan dengansiklus kehidupan, seperti kelahiran,perkawinan, dan kematian merupakanrutinitas kegiatan masyarakat Islam.Mereka memadukan dengan adatistiadat setempat.

Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam

Kerajaan Islam di Indonesia diperkirakan kejayaannya berlangsung antara abad ke-13 sampai dengan abad ke-16. Timbulnya kerajaan-kerajaan tersebut didorong oleh maraknya lalu lintas perdagangan laut dengan pedagang-pedagang Islam dari Arab, India, Persia, Tiongkok, dll. Kerajaan tersebut dapat dibagi menjadi berdasarkan wilayah pusat pemerintahannya, yaitu di Sumatera, Jawa, Maluku, dan Sulawesi. Masuknya agama islam ke nusantara (indonesia) pada abad 6 akhir, telah membawa banyak perubahan dan perkembangan pada masyrakat,budaya dan pemerintahan. Perubahan dan Perkebangan tersebut terlihat jelas dengan berdirinya kerajaan-kerajaan yang bercorak islam. antara lain sebagai berikut

a. Kesultanan Samudera Pasai
Kesultanan Samudera Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Terletak di

muara Sungai Peusangan di pesisir timur Laut Aceh berdiri pada abad ke-13 Masehi. Kerajaan ini didirikan oleh Laksamana Laut Mesir Nazimuddin Al-Kamil dari Dinasti Mamaluk. Raja pertama kerajaan ini adalah Marah Silu dengan gelar Malik Al-Saleh (1285-1297). Hal ini dapat diketahui dari batu nisan pada makam Malik Al-Saleh yang berangka tahun 1297 Masehi.

Setelah meninggalnya Malik Al-Saleh, digantikan oleh puteranya Muhammad Malik Al-Tahir yang memerintah dari 1297 hingga 1326. Pengganti selanjutnya adalah Sultan Ahmad dengan gelar Malik Al-Tahir. Menurut Ibnu Battuta, musafir dari Arab menyebutkan bahwa Sultan Ahmad dan masyarakat Samudera Pasai taat beragama. Para pejabatnya berasal dari Persia dan Mesir. Samudera Pasai adalah kota pelabuhan dagang penting menjadi tempat singgah kapal-kapal dagang asing dari Cina dan India. Perdagangan, pelayaran, dan pertanian merupakan sumber pendatan bagi Samudera Pasai dan berkembang dengan baik sehingga memberikan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya.

b. Kesultanan Demak
Kesultanan Demak didirikan oleh Raden Patah, seorang adipati Majapahit yang kemudian masuk Islam. Awalnya Demak adalah daerah bawahan Kerajaan Majapahit yang kemudian melepaskan diri pada tahun 1500 Masehi. Dengan bantuan para walisongo, Raden Patah mendirikan Kerajaan Demak. Wilayah kekuasaannya meliputi Jepara, Semarang, Tegal, Palembang, pulau-pulau sekitar Kalimantan, dan Sumatra. Demak juga menguasai pelabuhan dagang penting seperti Jepara, Tuban, Sedayu, Jaratan, dan Gresik.

Kerajaan Demak berperan penting dalam proses perkembangan Agama dan budaya Islam di Pulau Jawa. Pada masa itu Demak menjadi pusat penyebaran Agama Islam. Para wali, selain sebagai penyebar Islam mereka juga sebagai pensehat kerajaan Demak. Maka didirikankanlah Mesjid Demak sebagai pusat penyebaran Agama Islam. Demak di bawah kepemimpinan Raden Patah dengan gelar Sultan Alam Akbar berkembang menjadi pesat karena memiliki lahan pertanian yang luas.

Jatuhnya Malaka ke Portugis menyebabkan putusnya hubungan perdagangan ekspor Demak. Pada tahun 1513, Kerajaan Demak mengirimkan armada lautnya untuk menyerang Portugis di Malaka. Di bawah pimpinan Pati Unus, putra Raden Patah, Demak mengerahkan 10.000 prajurit dengan 100 buah perahu. Namun serangan ini berhasil digagalkan Portugis.

Meninggalnya Raden Patah tahun 1518 digantikan oleh putranya Pati Unus ysng terkenal dengan gelar Pangeran Sabrang Lor. Masa pemerintahan Pati Unus tidak berlangsung lama. Tahun 1521 Pati Unus wafat. Pangeran Trenggana menjadi Raja Demak (1521). Di bawah kepemimpinannya Kerajaan Demak berusaha menaklukan Jawa Barat pada tahun 1522 mengirimkan pasukan di bawah pimpinan Fatahillah untuk menguasai Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon. Tahun 1527 Pasukan Demak berhasil mengusir Portugis dari Banten dan Sunda Kelapa, sehingga wilayah Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon direbut Demak. Sultan Trenggana juga memperluas kekuasaannya ke Jawa Timur. Ia memimpin pasukan ke Jawa Timur, satu per satu wilayah Madiun, Gresik, Tuban, dan Malang direbut. Tetapi ketika berusaha merebut daerah Pasuruan, Sultan Trenggana gugur tahun 1546.

Setelah gugurnya Trenggana, terjadi perebutan kekuasaan antara Pangeran Prawata, putra Sultan Trenggana, dengan Pangeran Sekar Seda ing Lepeng. Pangeran Sekar dapat disingkirkan oleh Pangeran Prawata. Pangeran Arya Panangsang menuntut balas terhadap kematian ayahnya. Awalnya Pangeran Prawata berkuasa di Demak, namun ia kemudian disingkirkan Arya Panangsang, dan ia juga menyingkirkan Pangeran Hadiri, suami Ratu Kali Nyamat, adik Pangeran Prawata. Kemudian Arya Panangsang tampil sebagai Raja Demak. Masa pemerintahan Raja Arya Panangsang, Kerajaan Demak mengalami gejolak kekacauan.

Penyingkiran Pangeran Hadir, menyebabkan istrinya Ratu Kali Nyamat mengasingkan diri dan memberontak untuk balas dendam atas kematian suaminya. Tindakan Kali Nyamat banyak mendapat dukungan dari para adipati bawahan Demak. Salah satunya adalah Adipati Pajang (daerah Boyolali), ia adalah menantu Sultan Trenggana, Pangeran Adiwijaya atau dikenal dengan nama Jaka Tingkir. Dibantu oleh Kyai Gede Pamanahan, Ki Panjawi, dan putranya Sutawijaya. Adiwijaya berhasil mengalahkan Arya Panangsang. Kemudian ia naik tahta Kerajaan Demak dengan gelar Sultan Hadiwijaya serta memindahkan pusat kerajaan Demak ke Pajang tahun 1568 M. Dengan pemindahan itu maka berakhirlah riwayat Kesultanan Demak.

c. Kesultanan Mataram Islam
Munculnya Kesultanan Mataram tidak lepas dari Kerajaan Pajang, Sultan Adiwijaya (Jaka Tingkir) memberikan hadiah tanah di daerah Kota Gede, Mataram kepada Kyai Gede Pamanahan. Oleh Kyai Gede (Ageng) Pamanahan, daerah itu dibangun dan kemudian berkembang maju. Ia bercita-cita melepaskan diri dari Kerajaan Pajang, namun sebelum cita-cita itu tercapai tahun 1575 ia wafat, kemudian digantikan olehputranya Sutawijaya yang berhasil lepas dari kekuasaan Kerajaan Pajang dan mendirikan Kerajaan Mataram. Sutawijaya dinobatkan sebagai Adipati Mataram oleh Sultan Adiwijaya dengan gelar Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama, yang berarti panglima perang dan pembela agama Islam.


Di bawah kerja keras Sutawijaya, Mataram berkembang maju. Ia menjadikan Mataram sebagai kesultanan Islam terbesar di Pulau Jawa. Politik ekspansif Sutawijaya untuk menaklukan daerah-daerah lain dilakukan terhadap Surabaya, tahun 1586. Selanjutnya Sutawijaya merebut Madiun dan Ponorogo. Tahun 1587, Mataram berusaha merebut Panarukan, Pasuruan dan Blambangan. Tahun 1595, Sutawijaya mengalihkan politik ekspansifnya ke Jawa Barat, dikirim pasukan Mataram untuk menaklukkan Cirebon dan Kerajaan Galuh. Akhirnya Cirebon dan Galuh berhasil ditaklukkan dan mengakui kekuasaan Mataram.

Politik perluasan wilayah Mataram tidak selamanya mulus. Sutawijaya banyak mendapat perlawanan dari daerah taklukan seperti daerah Pati dan Demak. Gabungan pasukan Demak dan Pati berhasil mencapai ibukota Mataram, meskipun pada akhirnya dapat ditumpas tentara berkuda Kerajaan Mataram. Daerah Panarukan, Pasuruan, dan Blambangan juga ikut melepaskan diri setelah pasukan Mataram kembali ke Mataram. Dalam pemerintahannya, kedudukan Sultan memegang peranan sangat penting dan kuat. Di bidang ekonomi, ia menjadikan Mataram sebagai kerajaan agraris maritim. Tahun 1601, Sutawijaya wafat digantikan putranya Mas Jolang dengan gelar Panembahan Seda ing Krapyak.

d. Kesultanan Banten
Tahun 1522 Portugis mendapat persetujuan dari Kerajaan Pajajaran diperbolehkan membangun markas dagangnya di Sunda Kelapa. Hal ini sangat mencemaskan Kerajaan Demak, akan bahaya dari Portugis. Maka diutuslah misi dipimpin oleh Nasrullah atau Fatahillah, menantu Sultan Trenggana, Raja Demak. Misi ini disertai oleh pasukan dengan tujuan agar bandar-bandar pesisir utara Jawa Barat tidak jatuh ke tangan Portugis. Singkatnya tahun 1527, pelabuhan Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon berhasil dikuasai Demak.

Fatahillah sukses merebut tiga pelabuhan itu. Kemudian tahun 1552 Fatahillah
menyerahkan penguasaan Banten kepada putranya Hasanuddin dengan Gelar Panembahan Banten. Fatahillah sendiri pergi ke Cirebon untuk menggantikan Pangeran Pasarean, putra Fatahillah yang berkuasa atas Cirebon. Tahun 1568 Hasanuddin memerdekakan diri, Banten lepas dari Kerajaan Demak. Ia menobatkan dirinya menjadi raja pertama kerajaan Banten.

Maulana Yusuf kemudian meninggal digantikan putranya Maulana Muhammad tahun 1580-1596 Masehi, dengan gelar Kanjeng Ratu Banten. Tetapi karena ia masih berumur 9 tahun, pemerintahan dikendalikan oleh mangkubumi, baru kemudian dewasa ia naik tahta. Tahun 1596, Banten melakukan usaha penaklukan terhadap Palembang, karena kerajaan Palembang dianggap saingan perdagangan terhadap Banten.

Pada tahun yang sama 1596, Armada dagang Belanda dipimpin oleh Cornelis de Houtman mendarat di Banten. Kedatangan Belanda menimbulkan keributan dan kegaduhan di Pelabuhan Banten. Sehingga tentara Kerajaan Banten mengusirnya dari Banten. VOC yang ingin memonopoli perdagangan berusaha merebut Banten. Banten mencapai puncak kejayaan politiknya pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1683), ia sangat menentang kehadiran VOC di Banten yang memonopoli perdagangan. Banten merupakan pusat penyebaran agama Islam di wilayah barat Indonesia.

e. Kesultanan Makassar (Goa Tallo)
Pada abad ke-16 M berdiri beberapa kerajaan di Sulawesi Selatan, antara lain Goa dan Talo. Kedua kerajaan ini kemudian bergabung menjadi satu dengan nama Goa-Tallo atau yang lebih dikenal dengan nama Makassar. Ibukota kerajaan Makassar adalah Sombaopu. Raja Goa adalah Daeng Manrabia kemudian masuk Islam menjadi Raja Goa-Tallo dengan gelar Sultan Alaudin. Sedangkan Raja Tallo, Karaeng Matoaya menjadi Mangkubumi dengan gelar Sultan Abdullah. Makassar adalah kerajaan Islam pertama di Sulawesi.

Letak Makassar yang strategis pada jalur pelayaran antara Indonesia bagian barat dan Indonesia bagian timur. Makassar menjadi pintu masuk menuju ke wilayah Indonesia bagian timur, pada abad ke-16, Ternate, Tidore, dan Maluku sebagai pusat rempah-rempah. Banyak pedagang singgah di pelabuhan Makassar sebelum melanjutkan ke Ternate, Tidore, dan Maluku. Apalagi setelah jatuhnya Malaka ke Portugis. Pelabuhan Makassar berkembang pesat menjadi pelabuhan perdagangan.

Tahun 1639, Sultan Alaudin wafat digantikan putranya Sultan Muhammad Said. VOC berusaha membujuk Sultan, namun permintaan itu ditolak. Bahkan ia mengirimkan armada lautnya ke Maluku untuk membantu lepas dari cengkeraman VOC. Perlawanan Makassar terhadp VOC terus dilanjutkan oleh Sultan Hasanuddin, putra dari Sultan Muhammad Said.

Sultan Hasanuddin memegang tampuk kekuasaan Makassar dari tahun 1653 hingga 1667. Pada masa pemerintahannya, Makassar menjadi kerajaan maritim besar di wilayah Indonesia bagian timur, wilayah kekuasaanya hingga ke Nusa Tenggara. Sultan Hasanuddin terkenal gigih menentang monopoli perdagangan Belanda.

f. Kesultanan Ternate dan Tidore
Pada abad ke-15 di Maluku terdapat lima kerajaan yang berkuasa, yakni Jailolo, Ternate, Tidore, Bacan, dan Obi. Semuanya adalah kerajaan Islam. Di antara kelima kerajaan itu, kerajaan Ternate yang paling maju. Ternate sebagai penghasil rempah-rempah, menjadikan Ternate banyak dikunjungi pedagang. Sehingga Ternate maju menjadi pusat perdagangan di Maluku.

Kemajuan Ternate memancing kecemburuan empat kerajaan lainnya untuk bersekutu melawan Ternate. Terjadi perang, namun berlangsung tidak lama. Kelima kerajaan itu sepakat untuk membuat kesepakatan bersama kerajaan mana yang lebih dulu menduduki posisi pertama dan seterusnya. Tetapi kesepakatan ini pecah di akhir abad ke-15, karena Ternate tampil kembali di urutan pertama selama 10 tahun. Ketika akan dikembalikan lagi menjadi raja Ternate, Sultan Khaerun dan rakyat Ternate menolak sultan lama. Penolakan ini menyebabkan Portugis marah dengan siasat licik Portugis mengundang Sultan Khaerun untuk berunding dengan Portugis namun Sultan ditangkap oleh Portugis

Penamgkapan Sultan Khaerun menyulut kemarahan rakyat Ternate, pemberontakan terjadi dipimpin oleh putra sulung Sultan Khairun, Baabullah. Sultan Baabullah menyerukan perang

suci terhadap Portugis, ternyata Ternate banyak mendapat dukungan dari kerajaan-kerajaan lainnya termasuk Tidore. Perang akhirnya dimenangkan oleh rakyat dapat mengusir Portugis dari bumi Ternate tahun 1575, akhirnya Portugis menyingkir ke Timor Timur.

Wednesday, 23 October 2013

Perkembangan Islam di Indonesia

Menurut para ahli sejarah, masuknya Islam ke Indonesia bersamaan dengan proses berkembangnya perdagangan yang ada di kawasan Asia Tenggara. Proses masuknya Islam ini dilakukan oleh para pedagang yang berasal dari berbagai daerah seperti Arab, Persia, Oman, Kairo, Armenia, Gujarat serta para pedagang dari Timur seperti Siam, Pahang, Patani, Kamboja, Campa, Cina, dan juga melibatkan para pedagang dari kawasan Nusantara yang saling berinteraksi dengan para pedagang yang berasal dari berbagai negara tersebut. Proses masuk dan berkembangnya Agama Islam, baik secara agama maupun budaya terjadi setelah bangsa Indonesia bergaul dengan berbagai bangsa. Pergaulan bangsa ini ditandai dengan terjalinya hubungan dagang antara wilayah Nusantara dengan kawasan perdagangan di Asia Tenggara, Asia Selatan, maupun Asia Barat.

a. Peran Pedagang
Secara tradisional pedagang Arab sudah mengunakan jalur darat atau jalur sutera menjelajahi kawasan Asia Barat, Asia Tengah, kemudian ke dataran Cina. Melalui laut pedagang Arab menyusuri Laut Merah, Telu Aden, Laut Arab, Samudera Hindia, Laut Malabar, Semenanjung Malaka, Kepulauan Nusantara, dan Filipina.

Masuk dan berkembang Agama Islam di Indonesia bersamaan dengan ramainya perdagangan antara wilayah Arab, Teluk Persia, India, Selat Malaka dan kepulauan Nusantara pada abad ke-7 sampai 15 M. Ada beberapa keterangan yang membuktikan masuknya Agama Islam di Indonesia. di Indonesia berasal dari:
  • Keterangan dari Marcopolo, yang pernah singgah di Perlak tahun 1292 menyebutkan telah ada kerajaan Islam di Samudera Pasai.
  • Berita dari Ibnu Battuta pedagang Arab, pada tahun 1345 yang mengunjungi Kerajaan Islam Samudera Pasai.
  • Berita musafir Islam Cina, Ma-Huan bersama Laksamana Che-Ho tahun 1494 mengunjungi masyarakat perkampungan muslim di Gresik.
  • Ditemukannya makam batu nisan seorang muslimah bernama Fatimah binti Maimun di Leran Gresik tahun 1082 M.
  • Batu nisan makam Sultan Malik Al-Saleh (1297) yang dianggap sebagai pendiri Kerajaan Samudera Pasai.

b. Peran Pendakwah (penyampai agama)
Penyebaran agama Islam dilakukan melalui dakwah yang dirintis oleh Wali Songo (Wali Sembilan) di Jawa dan beberapa tempat daerah lainnya di Indonesia. Cara penyebaran Islam oleh wali Songo menggunakan metode-metode yang paling memudahkan ajaran agama Islam diterima oleh berbagai golongan masyarakat. Kesembilan wali itu antara lain.
  • Maulana Malik Ibrahim atau Maulana Maghribi. Cara penyebarannya dengan pendekatan pergaulan dengan masyarakat setempat untuk mengenal adat-istiadatnya terlebih dahulu. Dengan cara itu agama Islam mudah diterima oleh masyarakat yang menjadi sasaran penyebarannya. Maulana Malik Ibrahim wafat tahun 1419 dimakamkan di kota Gresik.
  • Sunan Ampel. Kemenakan Kertawijaya, seorang raja Majapahit (1467 M) menyebarkan Islam melalui pendidikan di pesantren. Di Ampel, dekat Surabaya, beliau mendirikan pesantren untuk mencetak kader dakwah, muridnya yang kemudian jadi wali adalah Sunan Giri.
  • Sunan Giri atau Raden Paku. Murid Sunan Ampel, menyebarkan Islam melalui kesenian. Sunan Giri mempunyai pengaruh terhadap Kerajaan Islam Demak. Dimakamkan di Bukit Giri, Gresik.
  • Sunan Bonang atau Makdum Ibrahim. Putra Sunan Ampel, lahir tahun 1465 M, menyebarkan agama Islam di Tuban dengan menggunakan budaya sebelum Islam, ia menciptakan lagu berisikan ajaran Islam seperti Durma. Kemudian dia menggunakan alat musik Bonang (gong) sebagai sarana untuk mengumpulkan massa.
  • Sunan Drajat. Putra ketiga Sunan Ampel, menyebarkan dakwah di Jawa Timur, melakukan penyebaran Islam dengan memberi pertolongan terhadap para fakir, anak-anak yatim, orang-orang yang membutuhkan dan orang-orang sakit. Beliau dianggap sebagai tokoh yang ikut mendirikan Kerajaan Islam Demak. Ia wafat tahun 1586 M di dekat Sedayu, Gresik.
  • Sunan Kudus atau Ja’far As-shadiq. Menyebarkan Islam di kota Kudus, ia dianggap pendiri Kota Kudus, juga membangun mesjid Kudus yang menaranya mengambil gaya candi Hindu. Ia wafat tahun 1603 M dimakamkan di kota Kudus.
  • Sunan Muria. Menyebarkan Agama Islam di pedalaman daerah Kudus. Pendekatan yang dilakukan untuk menarik minat masuk agama Islam dengan pendekatan kebudayaan terutama golongan masyarakat bawah. Misalnya menggunakan kesenian yang digemari masyarakat setempat.
  • Sunan Kalijaga atau Raden Sahid. Ia berasal dari lingkungan istana Majapahit, tetapi kemudian masuk Islam karena usaha Sonan Bonang. Ia menikah dengan putri Sunan Gunung Jati. Ia menyebarkan Islam dengan memanfaatkan pertunjukan wayang kulit dalam dakwahnya. Sunan Kalijaga tidak memaksakan penyebaran agama Islam, dan menghargai nilai-nilai lama yang telah dianut.
  • Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah. Berasal dari Persia, menyebarkan Agama Islam di Jawa Barat. Para penguasa di Banten dan Cirebon adalah keturunan Sunan Gunung Jati. Wafat di Cirebon tahun 1570 M.

Proses masuk dan berkembangnya agama dan budaya Islam ke Nusantara melalui beberapa sarana. Sarana-sarana penyebaran agama Islam di Indonesia, antara lain adalah:
  • Melalui Pedagang Gujarat. Pendapat ini berdasarkan bukti dari kesaksian Marcopolo yang pernah berkunjung ke Perlak tahun 1292 M, ia menyaksikan banyak pedagang Gujarat yang menyiarkan agama Islam dan didukung oleh adanya batu nisan makam Sultan Malik Al-Saleh yang didatangkan dari Gujarat.
  • Melalui Pedagang Persia. Pendapat ini berdasarkan bukti di Persia ada suku Laren dan Jawi, kemudian kedua suku ini mengajarkan huruf dan bahasa Arab di Pulau Jawa dengan huruf Pagon. Pendapat ini didukung oleh Husein Djayadiningrat. Kesamaan lainnya adalah peringatan 10 Muharram sebagai peringatan meninggalnya Husein di Karbala, cucu Nabi Muhammad saw. Di Indonesia peringatan ini juga dilaksanakan di Aceh dan Minangkabau.
  • Melalui Pedagang Arab atau Mesir. Pendapat ini dikemukakan oleh Hamka. Berdasarkan bukti raja-raja Samudera Pasai menganut mazhab Syafei. Penganut mazhab ini banyak di negara Mesir dan kota Makkah Arab Saudi. Bila oleh orang Persia, tentu banyak orang Indonesia bermazhab Syiah seperti di Persia. Gelar Malik Al–Saleh raja pertama Kerajaan Samudera Pasai adalah gelar dari Mesir.
  • Melalui Perkawinan. Dipandang status sosial dan ekonomi, pedagang muslim mempunyai tingkat sosial dan ekonomi yang lebih baik sehingga penduduk pribumi tertarik kepada pedagang muslim sehingga terjadilah perkawinan. Para keluarga muslim turut mempercepat proses berkembangnya agama Islam. Seperti perkawinan Sunan Ampel dengan Nyai Manila, Sunan Gunung Jati dengan putri Kawungaten dan Pangeran Brawijaya dengan putri Jeumpa dari Pasai Aceh yang melahirkan Raden Patah pendiri Kerajaan Islam Demak.
  • Melalui Pendidikan. Para wali mendirikan pesantren yang mendidik santri. Bila telah selesai belajar di pesantren, para santri kembali berdakwah menyebarkan agama Islam. Seperti pesantren yang didirikan oleh Sunan Ampel di Denta dekat Surabaya, Sunan Giri mendirikan pesantren di Giri.
  • Melalui Ajaran Tasawuf. Dengan tasawuf, agama Islam diajarkan kepada penduduk disesuaikan dengan alam pikiran masyarakat sehingga mudah diterima dan dimengerti. Seperti yang dilakukan oleh Hamzah Fansuri, Sunan Panggung, dan Syeh Siti Jenar.
  • Melalui Kesenian. Memakai kesenian yang disenangi oleh masyarakat sehingga agama Islam mudah diterima. Seni wayang, seni gamelan, seni sastra, seni bangunan, dan seni ukir, adalah media kesenian yang sering dipakai dalam penyebaran Agama Islam. Sunan Kalijaga menggunakan seni wayang dalam penyebaran Islam dan seni gamelan seperti adanya acara sekaten di Solo dan Jogyakarta.
  • Melalui saluran penguasa politik. Seorang raja masuk agama Islam sangat besar pengaruhnya dalam proses berkembangnya Islam, kemudian rakyatnya juga masuk Islam. Demi kepentingan politik, kerajaan Islam memerangi kerajaan non-Islam. Kemenangan kerajaan Islam secara politis akan menarik penduduk kerajaan non-Islam masuk Islam.

Peta Penyebaran dan Pengaruh Islam pada Abad Ke – 16, 18, dan 20
Setelah jatuhnya Kerajaan Islam Malaka tahun 1511 ke Bangsa Portugis, para pedagang tidak berhubungan lagi dengan Malaka. Mereka memutar arah kapalnya menyusuri pantai barat Sumatra hingga ke Kerajaan Minangkabau. Berlanjut ke Pulau Jawa melalui Selat Sunda, masuk ke pesisir utara Pulau Jawa, hingga tersebar di Demak. Dari Kerajaan Demak, Islam memencar ke Banten, Cirebon, Tuban, Gresik Dari Demak, agama Islam memencar ke Kalimantan Selatan, maka berdirilah Kesultanan Banjar, terus ke Makassar. Dari Kerajaan Makassar, Islam dibawa ke Kalimantan Timur, Bali, Lombok, Sumbawa Timor, Ternate, Tidore, Halmahera, dan Maluku.

Pada abad ke-18 proses berkembangnya Islam sudah menyebar ke sebagian besar wilayah Nusantara, terkecuali yang belum dipengaruhi agama Islam adalah Pulau Papua dan sekitarnya. Sumatra Utara, terutama sekitar wilayah Danau Toba dan wilayah pedalaman Sumatra Selatan, pedalaman Pulau Kalimantan.

Bentuk dan Ciri-ciri Peninggalan Hindu-Buddha

Bentuk dan Ciri-ciri Peninggalan Hindu-Buddha di Indonesia. Munculnya pengaruh budaya India di Indonesia diperkirakan telah ada sejak abad ke-5 Masehi. Hal ini berkaitan dengan ditemukannya tujuh buah batu bertulis (yupa) di Kutai, Kalimantan Timur. Yupa yang ditulis dalam bahasa Palawa dan huruf Sanskerta berisikan tentang kisah Kerajaan Kutai yang telah banyak menerima pengaruh Hindu. Bangsa Indonesia mempunyai banyak peninggalan sejarah. Peninggalan-peninggalan tersebut dikelompokkan menjadi tiga, yaitu sumber lisan, tertulis, dan benda bangunan. Berikut Peninggalan Sejarah Hindu dan Buddha :

a. Seni Bangunan
1) Candi
Candi adalah bangunan yang terbuat dari batu bersusun yang berfungsi sebagai tempat
penyimpanan abu jenazah raja. Candi dalam agama Hindu berfungsi sebagai pemakaman. Sedangkan dalam agama Buddha, candi berfungsi sebagai tempat pemujaan dewa. Kata candi berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu Candikagerha, yang berarti rumah Candika. Dalam kepercayaan Hindu, Candika adalah salah satu nama dari Dewi Durga atau Dewi Kematian. Bangunan candi bersusun bertingkat terdiri dari tiga bagian, yaitu kaki, tubuh, dan atap. Terdapat perbedaan sangat menonjol candi-candi yang di ada Indonesia. Ada ciri-ciri khas (langgam) di antara candi yang berada di Jawa Tengah dan Jawa Timur, seperti berikut ini.
No.Candi langgam Jawa TengahNo.Candi langgam Jawa Timur
1.Bentuk bangunannya tambun.1.Bentuk bangunannya ramping.
2.Atapnya bertingkat-tingkat2.Atapnya berbentuk piramida jenjang
3.Puncaknya berbentuk ratna atau stupa.3.Puncaknya berbentuk kubus.
4.Letak candi di tengah halaman4.Letak candi di bagian belakang halaman
5.Pada umumnya menghadap ke arah timur5.Pada umumnya menghadap ke arah barat
6.Kebanyakan bahan candi dari batu andesit. (batu sungai),6.Kebanyakan bahan candi dari bata merah
7.Relief timbulnya agak tinggi dan sifatnya naturali7.Relief timbulnya tidak menonjol, bersifat simbolis
8.Berhiaskan kala mangkara di atas pintu
masuk atau relung.
8.Tidak ada hiasan kala mangkara di atas pintu masuk.

Perhatikan nama-nama candi berlanggam Jawa Tengah bagian utara dan candi-candi berlanggam Jawa Timur pada tabel berikut.
No.Candi langgam Jawa TengahNo.Candi langgam Jawa Timur
1.Candi Gunung Wukir, di dekat Kota Magelang1.Komplek Candi Panataran, dekat kota
Blitar
2.Candi Badut, dekat kota Malang2.Candi Kidal, dekat kota Malang
3.Candi Gedongsongo, sekitar lereng Gunung Unggaran .3.Candi Jago, dekat kota Malang
4.Kelompok Candi Dieng, sekitar dataran tinggi Dieng
4.
Kelompok Candi Muara Takus, dekat
Bangkinang, Sumatera Selatan
5.Candi Kalasan, dekat kota Jogyakarta5.Candi Gunung Tua, dekat kota Padang,
Sumbar
6.Candi Borobudur, dekat kota Magelang6.Candi Bentar, di Pulau Bali
7.Candi Mendut, sebelah timur Borobudur7.Candi Singhasari, dekat kota Malang
8.Kelompok Candi Pelaosan , sebelah timur--
9.Candi Sewu, dekat Prambanan Kelompok Candi Sewu, dekat desa Prambanan, Jogyakarta--
10.Kelompok Candi Roro Jonggrang, di desa Prambanan, Jogyakarta--

2) Arca
Arcaadalah patung batu yang dipahat menyerupai manusia atau hewan. Patung-patung itu kemudian ditempatkan dalam candi. Dalam kepercayaan Hindu-Buddha, raja yang telah meninggal senantiasa dibuatkan patung. Patung itu menyerupai dewa (dewi). Seperti Patung Sang Buddha Siddharta Gautama, Arca Dewa Wisnu.

3) Gapura
Gapura adalah bangunan seperti pintu gerbang yang menyerupai candi terbelah dua. Seperti Gapura Jedong, Gapura Plumbangan.

4) Stupa
Stupa adalah bangunan batu yang berbentuk seperti genta, misalnya stupa yang ada tingkat atas Candi Borobudur.

5) Seni pahat Batu
Seni pahat batu adalah seni ukiran pada dinding-dinding candi berupa relief


b. Seni Sastra
Karya sastra terkenal yang muncul pada masa Hindu- Buddha adalah.
1) Arjuna wiwaha, karya Mpu Kanwa
2) Sutasoma, karya Mpu Tantular
3) Negarakertagama, karya Mpu Prapanca
4) Gubahan Cerita Ramayana dan Mahabharata

c Tulisan dan Bahasa
Kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha di Indonesia banyak meninggalkan prasasti yang dtulis dalam bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa. Dalam pergaulan sehari-hari, bahasa Sanskerta tidak dipergunakan. Bahasa Sanskerta hanya dipergunakan di kalangan istana.

d. Sistem Pemerintahan
Kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha, seperti Kutai, Tarumanegara, Sriwijaya, Singhasari, dan Majapahit, dalam menjalankan pemerintahannya mengambil corak sistem pemerintahan Hindu-Buddha. Alasan kerajaan-kerajaan itu mengadopsi sistem pemerintahan seperti di India,dianggap cocok dengan keadaan di Indonesia.